Posts

#6. Hujan dan Sebuah Memori

Beberapa jam yang lalu matahari bersinar sangat cerah. Windu sempat melihat telepon genggamnya untuk memastikan suhu saat itu. Tertera di layar angka 32 sebagai perhitungan suhu. Cuaca hari ini cukup jadi alasan untuk bermalas-malasan di ruang kelas. Tanpa diduga, hujan datang. Mengguyur bumi dengan sangat deras. Terlihat orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Beberapa diantaranya bahkan mengutuk langit karena telah menurunkan hujan hingga membuat baju kesayangan basah kuyup. Cuaca memang sangat sulit untuk ditebak. Windu terduduk di depan ruang kelas. Matanya menatap lurus ke depan. Menerawang jauh ke masa yang menyimpan berjuta memori. Hujan memang suka membawa pikiran berkelana ke ruang memori. Hujan juga yang membuat Windu punya memori unik. "Cantiiiiik. Ayo masuk! Hujan nih," seorang berteriak dari dalam rumah sambil menggerakkan tangannya. Isyarat agar lawan bicaranya menuruti perintah. Namun lawannya tak bergeming. Tak menghiraukan perkataan lelaki bertubuh...

#5. Ruang di Ujung Lorong

"Jadi relawan itu buat candu" Kalimat itu terngiang di telinga Windu. Zahra yang mengucapkannya. Windu dan Zahra sering berbeda pendapat. Bahkan mereka pernah berdebat tentang larangan menjemur pakaian di depan pintu. Windu meyakini hal itu tidak boleh sebagai hasil pengajaran dari ibunya. Tapi Zahra tak setuju. Baginya sah-sah saja. Terlebih saat tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk menjemur. Terkadang Windu memang kaku dengan hal seperti ini. Namun, untuk urusan menjadi relawan, mereka punya pemikiran yang sama. Sejak acara di desa sebulan lalu, Windu jadi sering terlibat dengan kegiatan relawan. Ia tak lagi harus menunggu Zahra jika ingin mengikuti kegiatan di Rumah Cita. Bahkan sekarang Windu sudah jadi relawan tetap. Rumah Cita jadi tempat pelariannya saat tugas kampus berusaha memecahkan kepala. Anak-anak di Rumah Cita memberikan pelajaran berbeda untuk Windu. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya wanita dewasa itu dengan tatapan menghangatkan di suatu p...

#4. Jurnal Harian

Kapal Dolphin sedang bercumbu mesra dengan air laut. Ukurannya yang tidak besar mengharuskan ia mengalah pada lautan. Berlayar di pinggir laut agar tak termakan ombak besar. Sesekali Dolphin harus memanjat ombak demi bisa terus melaju ke tempat tujuan. Tak jarang seseorang dibalik lajunya Dolphin harus menurunkan knot untuk menjaga keseimbangan. Dolphin ini sangat lihai. Seolah sudah berteman akrab dengan lautan. Layaknya Dolphin yang sebenarnya. Di sudut Dolphin terlihat seorang anak kecil. Sebenarnya ia sangat cantik. Namun aromanya sudah tak mengenakkan hidung. Baru setengah jam perjalanan, ia sudah pucat pasi. Mengeluarkan isi perut yang mendesak ingin bebas. Jika ditampung, sudah menghabiskan setengah lusin plastik. Seseorang di sebelahnya terlihat sibuk mengurut tengkuk anak kecil itu. Padahal, memandangi laut sangat menyenangkan. Tapi sayang, anak kecil tadi tak bisa turut merasakan sensasinya. Sebisa mungkin Windu menjauh dari anak kecil itu. Ia takut akan melakukan hal sa...

#3. Pengamat

Sejak lima menit lalu seekor kupu-kupu terlihat sibuk. Beterbangan ke sana ke mari. Sesekali menabrakkan tubuhnya ke benda yang terpampang besar dan mengelilingi ruangan ini. Sepertinya ia mencari jalan ke luar. Benda besar ini memang transparan. Mungkin itu lah alasan si kupu-kupu menabrakkan badannya. Ia mengira itu jalan keluar dari ruangan. Ada begitu banyak orang dalam ruangan. Tapi sepertinya tak ada yang menyadari keberadaan si kupu-kupu. Membuat kupu-kupu harus terbang mengelakkan tabrakan dengan tubuh manusia yang ukurannya berkali lipat. Beberapa menit sekali kupu-kupu berhenti terbang. Lalu hinggap di bingkai lukisan pemandangan yang menghiasi ruang. Mungkin ia lelah. Terbang ke sana ke mari, tapi tak jua menemukan pintu keluar. Sekilas, ia terlihat bahagia karena terbang ke sana ke mari. Tapi sebenarnya ia terpenjara dalam keramaian ini. 'Driiittt' suara pintu terbuka. Disusul dengan seseorang masuk ke ruangan. Seketika Windu menatap kupu-kupu yang sedang istira...

#2. Peramal

Hari ini akan menjadi pertemuan ketiga dengan wanita dewasa waktu itu. Pertemuan yang lalu tidak begitu berjalan mulus. Ada rasa yang tak menentu. Windu sempat dibuat takut menghadapi wanita yang gemar mengenakan blazer biru muda. Kabarnya wanita itu juga paling ditakuti di gedung ini. Rasa takut campur was-was membuat pertemuannya tak begitu bermakna. Meskipun begitu, Windu tetap menyelesaikan tugas yang diminta beliau. Demi mencapai cita-cita, Windu rela mengorbankan satu jam waktunya setiap malam sebelum tidur. Pagi ini matahari bersinar dengan sangat cerah. Dua hari yang lalu hujan turun berturut-turut. Beberapa penghuni kamar kosan harus rela menguras air yang sudah menyentuh mata kaki. Salah satu derita anak kos! Untungnya hari ini cerah. Sepertinya mentari sudah lelah bersembunyi di balik awan. Dia lelah bermain petak umpet bersama manusia. Setelah mendapat mandat dari Pencipta, ia pun memberikan kehangatan pada umat manusia. Cerahnya hari ini tidak secerah suasana hati Wind...

#1. Selimut Tua

"Baiklah, hari ini cukup sampai disini saja. Nanti kita atur pertemuan selanjutnya ya. Jangan lupa selesaikan tugas yang saya berikan." seorang wanita muda dewasa menyampaikan kalimat penutup dengan penuh kehangatan pada gadis yang duduk di depannya. Gadis itu menganggukkan kepala, tanda setuju dengan perkataan wanita dewasa tersebut. Ia beranjak dari kursi yang sudah mengempes busanya karena lelah dikencani. Setelah berpamitan pada wanita tersebut, ia menarik gagang pintu dari ruangan sederhana berwarna putih yang menenangkan mata saat memandang. Sekali lagi diarahkannya pandangan pada wanita yang masih duduk di belakang meja, kemudian menarik kedua sisi bibirnya diikuti dengan menarik gagang pintu ke arah luar. Ia menyusuri satu-satunya lorong lantai dua yang ada di gedung ini. Lorong yang masih bernuansa sama, juga berwarna putih layaknya ruang yang baru dikunjungi. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti. Melewati berbagai rupa manusia yang beberapa diantaranya masih sanga...

Samenan: Sebuah Perayaan Kelas Laskar Aksara

Samenan? Apa itu? Jujur, aku juga baru beberapa hari yang lalu mendengar kata itu. Tentu saja aku mengenalnya dari keluarga baru yang kusebut Laskar Aksara. Pertama kali melihat tulisan Samenan, aku membacanya semenan. Apaan tuh semenan? Nyemen? Kayak nyemen bangunan gitu? Setelah kuperhatikan lebih lanjut, ternyata "Samenan". Samenan ini merupakan bahasa Sunda dan sudah menjadi tradisi daerah Tasikmalaya yang berarti perayaan naik kelas atau dilakukan ketika perpisahan. Iya iyaaa, keluarga Laskar Aksara ini memang tersebar di Indonesia. Makanya nih, kalau kamu mau punya keluarga baru, wajib ikutan Laskar Aksara. Nah, kami pun mengadopsi kata ini untuk merayakan kenaikan kelas para anggota keluarga Laskar Aksara. Bagaimana kenaikan kelasnya kami? Apa indikasinya? Sederhana saja. Semua anggota telah mampu menyelesaikan tantangan menulis satu tema untuk satu hari. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih untuk aku si pemula ini. Nah, karena sudah mampu menyelesaikan...