Posts

#10. Pada Tahun 2010 Silam

Jika ada yang mengatakan dunia ini bagai panggung sandiwara, aku sangat setuju. Sangat banyak skenario sandiwara yang diciptakan Tuhan untuk para pemain di Bumi. Tak terkecuali Windu. Sepertinya seluruh skenario sandiwara tersebut sudah khatam dirasakannya. Sejak kecil hingga usia saat ini Windu sudah melalui pahit manis, getar getir, dan suka duka kehidupan. Meskipun dengan kehidupan yang penuh skenario, Windu selalu terlihat bahagia dengan dunianya. Keaktifannya di kelas hingga membuat semua dosen mengenalinya, ramahnya ia pada hampir semua orang, dan sekarang perilakunya semakin sempurna karena aktif sebagai relawan. Belum lagi parasnya yang menyejukkan hati. Semua itu seakan menjadikan Windu sebagai kandidat terkuat untuk dijadikan istri idaman. Banyak orang akan berpikir kehidupan yang Windu miliki sangatlah sempurna. Meskipun kita semua tahu, hal yang terlihat oleh mata belum tentu sama dengan yang terjadi sebenarnya. Pantai dan deru ombaknya yang begitu indah serta menenangk...

#9. Sentuhan yang Mengeluarkan Air Mata

Kuliah pertama di hari rabu sudah usai. Ada jeda istirahat selama 2 jam untuk makan dan shalat bagi yang muslim. Windu terduduk di sudut kantin dalam kesendiriannya. Sepiring nasi yang hanya diusik sedikit itu terpinggirkan dari hadapan Windu. Tangan kirinya menopang dagu, sedangkan jemari tangan kanannya menari membuat irama ketukan di atas meja. "Wooii ngelamun aja," Silly berteriak di telinga Windu setelah lelah memanggilnya dari lamunan panjang. "Kalau siap ini aku jadi budeg, aku bakalan tuntut kamu nih," Windu kesal. "Ya elaaah. Jangan sewot dong neng cantik. Sorry deh," Silly bergelayut manja di lengan Windu. Marah Windu memudar, lalu tersenyum karena geli dengan tingkah Silly. "Nah gitu dong. Smile," Meri angkat bicara. "Windu. Kamu gak mau cerita sesuatu sama kami?" Silly melonggarkan ikatan lengannya dengan Windu setelah beberapa menit. "Cerita tentang apa?" Tanya Windu. "Tentang apa pun. Memang si...

#8. Lima Puluh Menit Windu

Lima puluh menit sudah berlalu sejak Windu mulai bercerita pada wanita dewasa itu. Windu keluar dari ruangan yang sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Terlihat pancaran perasaan campur aduk dari tatapan mata Windu. Langkah gontainya semakin membuat yakin bahwa perasaannya sedang tak karuan. Disusurinya lorong itu dengan tatapan kosong sambil berusaha menyentuh tembok di sebelah kirinya. Langkahnya terseret. Sama halnya dengan telapak tangannya yang diseret menyentuh tembok. Di satu sisi, ada perasaan lega yang dirasakan Windu. Ia merasa bagai telah membuang sebongkah batu besar yang selama ini mendiami otaknya. Tapi itu belum cukup. Selama ini Windu telah menimbun banyak bongkahan batu besar di hati dan otaknya. Ia butuh lima puluh menit lagi hingga berkali-kali. Meski dengan langkah gontai dan perasaan tak karuan, Windu berhasil menuruni anak tangga dengan selamat. Hingga seseorang menghadang jalannya. Tanpa menoleh, Windu mengalihkan langkahnya ke kanan agar tidak bertabr...

#7. Potongan Masa Lalu

Di sudut lorong bangunan serba putih dengan aroma khasnya terlihat Windu terbaring lemas. Selang oksigen melekat pasti di lobang hidungnya. Tak lupa juga selang infus yang meliuk-liuk menuju pergelangannya. Di ruangan berukuran 3x4 itu ada Zahra, Dewi, dan Silly yang menunggu Windu. "Winduuuu," sapa Dewi sesaat setelah melihat Windu membukakan matanya perlahan-lahan. Ia sudah mengenali suara itu, meskipun belum sepenuhnya terlihat. Windu menatap ketiga temannya, lalu tersenyum. "Kamu kenapa? Kok bisa tiba-tiba pingsan? Kami khawatir loh," Silly menunjukkan mimik sedih dan cemas akan keadaan Windu. "Aku gak papa kok. Mungkin terlalu capek. Kan tugas lagi banyak-banyaknya," Windu menjawab sambil tersenyum. Lalu ia menerawang, mencoba mengingat kronologis sebelum ia pingsan. ☆☆☆ "Dua hari yang lalu saya pingsan mendadak," ucap Windu pada seseorang di depannya. "Kenapa?" "Saya tidak tahu. Sepertinya saat itu saya baik-bai...

#6. Hujan dan Sebuah Memori

Beberapa jam yang lalu matahari bersinar sangat cerah. Windu sempat melihat telepon genggamnya untuk memastikan suhu saat itu. Tertera di layar angka 32 sebagai perhitungan suhu. Cuaca hari ini cukup jadi alasan untuk bermalas-malasan di ruang kelas. Tanpa diduga, hujan datang. Mengguyur bumi dengan sangat deras. Terlihat orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Beberapa diantaranya bahkan mengutuk langit karena telah menurunkan hujan hingga membuat baju kesayangan basah kuyup. Cuaca memang sangat sulit untuk ditebak. Windu terduduk di depan ruang kelas. Matanya menatap lurus ke depan. Menerawang jauh ke masa yang menyimpan berjuta memori. Hujan memang suka membawa pikiran berkelana ke ruang memori. Hujan juga yang membuat Windu punya memori unik. "Cantiiiiik. Ayo masuk! Hujan nih," seorang berteriak dari dalam rumah sambil menggerakkan tangannya. Isyarat agar lawan bicaranya menuruti perintah. Namun lawannya tak bergeming. Tak menghiraukan perkataan lelaki bertubuh...

#5. Ruang di Ujung Lorong

"Jadi relawan itu buat candu" Kalimat itu terngiang di telinga Windu. Zahra yang mengucapkannya. Windu dan Zahra sering berbeda pendapat. Bahkan mereka pernah berdebat tentang larangan menjemur pakaian di depan pintu. Windu meyakini hal itu tidak boleh sebagai hasil pengajaran dari ibunya. Tapi Zahra tak setuju. Baginya sah-sah saja. Terlebih saat tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk menjemur. Terkadang Windu memang kaku dengan hal seperti ini. Namun, untuk urusan menjadi relawan, mereka punya pemikiran yang sama. Sejak acara di desa sebulan lalu, Windu jadi sering terlibat dengan kegiatan relawan. Ia tak lagi harus menunggu Zahra jika ingin mengikuti kegiatan di Rumah Cita. Bahkan sekarang Windu sudah jadi relawan tetap. Rumah Cita jadi tempat pelariannya saat tugas kampus berusaha memecahkan kepala. Anak-anak di Rumah Cita memberikan pelajaran berbeda untuk Windu. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya wanita dewasa itu dengan tatapan menghangatkan di suatu p...

#4. Jurnal Harian

Kapal Dolphin sedang bercumbu mesra dengan air laut. Ukurannya yang tidak besar mengharuskan ia mengalah pada lautan. Berlayar di pinggir laut agar tak termakan ombak besar. Sesekali Dolphin harus memanjat ombak demi bisa terus melaju ke tempat tujuan. Tak jarang seseorang dibalik lajunya Dolphin harus menurunkan knot untuk menjaga keseimbangan. Dolphin ini sangat lihai. Seolah sudah berteman akrab dengan lautan. Layaknya Dolphin yang sebenarnya. Di sudut Dolphin terlihat seorang anak kecil. Sebenarnya ia sangat cantik. Namun aromanya sudah tak mengenakkan hidung. Baru setengah jam perjalanan, ia sudah pucat pasi. Mengeluarkan isi perut yang mendesak ingin bebas. Jika ditampung, sudah menghabiskan setengah lusin plastik. Seseorang di sebelahnya terlihat sibuk mengurut tengkuk anak kecil itu. Padahal, memandangi laut sangat menyenangkan. Tapi sayang, anak kecil tadi tak bisa turut merasakan sensasinya. Sebisa mungkin Windu menjauh dari anak kecil itu. Ia takut akan melakukan hal sa...