Posts

Testpack

 Assalamu'alaikum, teman-teman semua. Sudah lama sekali gak update di blog ini. Sampai-sampai otak rasanya jadi kaku untuk menuangkan isinya menjadi phrasa yang indah. InsyaAllah aku akan memasuki fase kehidupan yang baru, maka aku ingin kembali mengabadikan perjalanan ini kedalam tulisan karena dengan tulisan lah memori bisa menjadi kekal. Tulisan kali ini akan bercerita tentang #pregnancystories. Maka, di tulisan ini pemeran utamanya adalah aku dan anakku.  Assalamu'alaikum, nak. MasyaAllah, mimpi apa Bunda hingga Allah tiupkan kamu ke rahim Bunda. Alhamdulillah, tepatnya 04 Juni lalu Bunda melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Ya, dua garis merah terlukis jelas di sebuah benda berukuran sekitar 7x0.5cm. Garis yang sudah Ayah Bunda tunggu selama ini. Garis yang mengisyaratkan kepada kami untuk bersiap-siap menyambut kedatanganmu di dunia ini, sekitar 9 bulan lagi. Sebenarnya Bunda belum pengen testpack saat itu karena baru telat haid 3 hari. Mengingat beberapa bulan lalu Bund...

Perjalanan di 2018

Aku ingin mengenang perjalanan di tahun ini. Tahun yang ku susun dengan penuh rencana, namun aku sempat lupa ada yang Maha Perencana. Awal tahun ku habiskan dengan bekerja sebagai Marketing bimbingan belajar lokal yang ada di kampung halaman. Tak lama, kurang dari sebulan. Kemudian aku pamit untuk menunaikan misi yang sempat tertunda di tahun 2017. Iyaa, melamar S2 dan mendapatkan beasiswa. Aku berencana menuju ibu kota. Sebelum itu, aku terlebih dahulu menuju kota yang menempa pribadi ini menjadi seperti sekarang, Banda Aceh, untuk meminta surat rekomendasi dari dosen semasa kuliah. Sesampainya di bumi Serambi Mekkah, aku dikejutkan dengan kabar operasi salah satu sahabat. Geng Kutilers *halaah gaya pake geng2n 😂😂😂. Beruntung aku sedang di kota tersebut, aku jadi bisa menemani ia dan segala ceritanya di rumah sakit hihiii. Setelah semua urusan di Banda Aceh selesai, aku bertolak menuju Ibu Kota, Djakarta. Kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Di Jakarta, aku dan salah seo...

#15. Lembaran Baru

"Kamu ingat, di tahun 2010? Aku, Satya!" Lelaki itu menunjukkan wajah serius. 'Tahun 2010? Siapa kamu sebenarnya?' Windu bergumam dalam hati. Lama Windu menutup mulutnya. Mencoba menggali ingatan dari tahun 2010. Mencari-cari potongan wajah dalam labirin memori terdalam. Memori kelam yang dulu sempat memporak porandakan hidupnya. Disusurinya memori itu. Disapanya wajah-wajah yang kerap bersama menemani masa sulit itu. "Kamu tak bisa mengingatnya?" Satya bertanya lagi. Windu masih dengan bibirnya yang terkatup rapat. Tak menjawab pertanyaan Satya, lelaki yang katanya mengenal Windu sejak lama. "Aku menyerah. Kamu masih terasa asing bagiku," jawab Windu setelah lelah berkelana ke masa lalu. Satya tersenyum getir. Diubahnya posisi duduk hingga badannya semakin condong ke depan. Memperhatikan setiap lekuk wajah Windu, wajah yang sejak lama tak bisa dilihatnya. Windu menarik tubuhnya lalu bersandar di kursi. Ada rasa aneh saat Satya mencoba m...

#14. Seseorang Dari Masa Lalu

Sesi terapi terakhir yang dijalani Windu telah memberikan banyak perubahan dalam hidupnya. Tatapan mata Windu sudah kembali bersinar. Senyumannya tak lagi terlihat palsu, karena tak ada lagi luka serta duka yang berusaha disangkal. Sore hari yang cerah, Windu berusaha menikmati waktu kesendiriannya. Ia sedang mencoba meresapi semua pembelajaran hidup yang telah dilalui. Di sudut ruang, di meja yang sama seperti beberapa waktu lalu, ia menghabiskan waktunya ditemani secangkir cappucino yang sudah sejak lama terabaikan. Masalah yang kembali menghantuinya menjadikan Windu mengabaikan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia, seperti rasa bahagia saat menikmati secangkir cappucino favoritnya. Selain cappucino hangat miliknya, juga ada sebuah buku dengan coretan tinta yang masih segar. Sesekali ditatapnya buku yang terbuka itu sambil tersenyum. Windu baru saja merumuskan kehidupan baru yang hendak dijalaninya. Senin sore ini tak banyak yang berkunjung ke kafe. Suasana pun jauh dari kata ...

#13. Sebuah Pengakuan

Menggali masa lalu itu ibaratkan dengan menebar asam dan garam di atas luka. Rasanya sangat perih. Tapi juga bisa menjadi penyembuh. Masa lalu tak akan pernah lepas dari kehidupan. Masa sekarang dan masa depan setiap orang akan sangat ditentukan dengan masa lalunya. Tapi bukan sebatas apakah masa lalu yang telah dilalui itu baik atau buruk, lebih dari itu. Selain baik buruknya masa lalu, cara menyikapi masa lalu juga berperan penting bagi masa depan. Menurut Windu, ia memiliki masa lalu yang buruk. Berbagai skenario kehidupan dengan segala rasanya telah fasih dirasakan. Berbagai sesi konseling dan terapi pun telah ia lalui demi membantunya menjalani kehidupan lebih baik. "Sil, Ka, aku mau cerita sesuatu sama kalian," ucap Windu pada suatu sore di bawah rindangnya pohon. Silly dan Rizka menatap Windu tanpa berkomentar. Mereka menunggu kalimat lanjutan dari Windu. "Selama ini aku udah menyembunyikan hal besar. Aku minta maaf karena gak pernah cerita. Aku masih mengum...

Menggali Masa Lalu

"Bagaimana keadaanmu?" Seorang wanita menyambut kedatangan Windu dengan senyum ramahnya. "Sedikit lebih baik," balas Windu berusaha memberikan senyum terbaiknya. "Kita sudah melewati berbagai sesi. Apa masih ada yang mengganjal di hatimu?" Wanita itu bertanya sesaat setelah melihat tatapan mata Windu yang tak sesuai dengan senyumannya. Windu terdiam. Mengunci rapat mulutnya. Ia seperti sedang berusaha memilah kata yang ingin diucapkannya. "Ada yang belum saya ceritakan!" Windu bicara sambil menatap kakinya. Kalimat yang sejak lama tersangkut di lehernya itu akhirnya mampu juga diucapkan. Butuh keberanian ekstra untuk mampu mengungkapkannya. Bahkan pertemuan pertama dengan wanita ini pun sudah sangat berat. Namun tekad kuat Windu sudah keras bagai baja. Sengsara rasanya terkepung masa lalu. Windu menarik panjang nafasnya lalu dibuang dengan sekuat tenaga. Belum ada kata yang keluar dari bibir kecilnya itu, namun bola matanya seolah berkaca...

#11. Nona & Derita Windu

"Winduuuu? Ya Allah. Kamu kenapa?" Raut wajah wanita tua itu terlihat sangat cemas. Windu tak berucap sepatah kata pun. Seketika badannya tersungkur ke arah wanita yang sudah semakin renta. Neneknya semakin cemas. Berusaha sekuat tenaga menahan badannya agar tak terjatuh bersama terhempas ke lantai. Namun tulangnya tak lagi kuat. Kakinya terlalu lemah untuk tetap berdiri kokoh saat melihat cucu kesayangannya dengan kondisi menyedihkan. Entah apa yang dipikirkan Sang Nenek. Tak berapa lama seseorang berjas putih memasuki rumah Nenek, lalu menuju kamar yang ditempati Windu. Dengan sigap ia bersiap ingin memeriksa keadaan Windu. Nenek masih berdiri dengan cemas menatap nanar ke arah Windu. Anak bungsunya tak menyahut telepon. Windu tak sadarkan diri. Nenek bingung dengan keadaan yang terjadi saat itu. Dokter itu sedang berusaha memeriksa menggunakan stetoskopnya. Lalu tiba-tiba tangan Sang Dokter dicegat. Windu terbangun dan teriak sekuat tenaga. "Jangan. . . Ampuuu...

#10. Pada Tahun 2010 Silam

Jika ada yang mengatakan dunia ini bagai panggung sandiwara, aku sangat setuju. Sangat banyak skenario sandiwara yang diciptakan Tuhan untuk para pemain di Bumi. Tak terkecuali Windu. Sepertinya seluruh skenario sandiwara tersebut sudah khatam dirasakannya. Sejak kecil hingga usia saat ini Windu sudah melalui pahit manis, getar getir, dan suka duka kehidupan. Meskipun dengan kehidupan yang penuh skenario, Windu selalu terlihat bahagia dengan dunianya. Keaktifannya di kelas hingga membuat semua dosen mengenalinya, ramahnya ia pada hampir semua orang, dan sekarang perilakunya semakin sempurna karena aktif sebagai relawan. Belum lagi parasnya yang menyejukkan hati. Semua itu seakan menjadikan Windu sebagai kandidat terkuat untuk dijadikan istri idaman. Banyak orang akan berpikir kehidupan yang Windu miliki sangatlah sempurna. Meskipun kita semua tahu, hal yang terlihat oleh mata belum tentu sama dengan yang terjadi sebenarnya. Pantai dan deru ombaknya yang begitu indah serta menenangk...

#9. Sentuhan yang Mengeluarkan Air Mata

Kuliah pertama di hari rabu sudah usai. Ada jeda istirahat selama 2 jam untuk makan dan shalat bagi yang muslim. Windu terduduk di sudut kantin dalam kesendiriannya. Sepiring nasi yang hanya diusik sedikit itu terpinggirkan dari hadapan Windu. Tangan kirinya menopang dagu, sedangkan jemari tangan kanannya menari membuat irama ketukan di atas meja. "Wooii ngelamun aja," Silly berteriak di telinga Windu setelah lelah memanggilnya dari lamunan panjang. "Kalau siap ini aku jadi budeg, aku bakalan tuntut kamu nih," Windu kesal. "Ya elaaah. Jangan sewot dong neng cantik. Sorry deh," Silly bergelayut manja di lengan Windu. Marah Windu memudar, lalu tersenyum karena geli dengan tingkah Silly. "Nah gitu dong. Smile," Meri angkat bicara. "Windu. Kamu gak mau cerita sesuatu sama kami?" Silly melonggarkan ikatan lengannya dengan Windu setelah beberapa menit. "Cerita tentang apa?" Tanya Windu. "Tentang apa pun. Memang si...

#8. Lima Puluh Menit Windu

Lima puluh menit sudah berlalu sejak Windu mulai bercerita pada wanita dewasa itu. Windu keluar dari ruangan yang sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Terlihat pancaran perasaan campur aduk dari tatapan mata Windu. Langkah gontainya semakin membuat yakin bahwa perasaannya sedang tak karuan. Disusurinya lorong itu dengan tatapan kosong sambil berusaha menyentuh tembok di sebelah kirinya. Langkahnya terseret. Sama halnya dengan telapak tangannya yang diseret menyentuh tembok. Di satu sisi, ada perasaan lega yang dirasakan Windu. Ia merasa bagai telah membuang sebongkah batu besar yang selama ini mendiami otaknya. Tapi itu belum cukup. Selama ini Windu telah menimbun banyak bongkahan batu besar di hati dan otaknya. Ia butuh lima puluh menit lagi hingga berkali-kali. Meski dengan langkah gontai dan perasaan tak karuan, Windu berhasil menuruni anak tangga dengan selamat. Hingga seseorang menghadang jalannya. Tanpa menoleh, Windu mengalihkan langkahnya ke kanan agar tidak bertabr...

#7. Potongan Masa Lalu

Di sudut lorong bangunan serba putih dengan aroma khasnya terlihat Windu terbaring lemas. Selang oksigen melekat pasti di lobang hidungnya. Tak lupa juga selang infus yang meliuk-liuk menuju pergelangannya. Di ruangan berukuran 3x4 itu ada Zahra, Dewi, dan Silly yang menunggu Windu. "Winduuuu," sapa Dewi sesaat setelah melihat Windu membukakan matanya perlahan-lahan. Ia sudah mengenali suara itu, meskipun belum sepenuhnya terlihat. Windu menatap ketiga temannya, lalu tersenyum. "Kamu kenapa? Kok bisa tiba-tiba pingsan? Kami khawatir loh," Silly menunjukkan mimik sedih dan cemas akan keadaan Windu. "Aku gak papa kok. Mungkin terlalu capek. Kan tugas lagi banyak-banyaknya," Windu menjawab sambil tersenyum. Lalu ia menerawang, mencoba mengingat kronologis sebelum ia pingsan. ☆☆☆ "Dua hari yang lalu saya pingsan mendadak," ucap Windu pada seseorang di depannya. "Kenapa?" "Saya tidak tahu. Sepertinya saat itu saya baik-bai...

#6. Hujan dan Sebuah Memori

Beberapa jam yang lalu matahari bersinar sangat cerah. Windu sempat melihat telepon genggamnya untuk memastikan suhu saat itu. Tertera di layar angka 32 sebagai perhitungan suhu. Cuaca hari ini cukup jadi alasan untuk bermalas-malasan di ruang kelas. Tanpa diduga, hujan datang. Mengguyur bumi dengan sangat deras. Terlihat orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Beberapa diantaranya bahkan mengutuk langit karena telah menurunkan hujan hingga membuat baju kesayangan basah kuyup. Cuaca memang sangat sulit untuk ditebak. Windu terduduk di depan ruang kelas. Matanya menatap lurus ke depan. Menerawang jauh ke masa yang menyimpan berjuta memori. Hujan memang suka membawa pikiran berkelana ke ruang memori. Hujan juga yang membuat Windu punya memori unik. "Cantiiiiik. Ayo masuk! Hujan nih," seorang berteriak dari dalam rumah sambil menggerakkan tangannya. Isyarat agar lawan bicaranya menuruti perintah. Namun lawannya tak bergeming. Tak menghiraukan perkataan lelaki bertubuh...

#5. Ruang di Ujung Lorong

"Jadi relawan itu buat candu" Kalimat itu terngiang di telinga Windu. Zahra yang mengucapkannya. Windu dan Zahra sering berbeda pendapat. Bahkan mereka pernah berdebat tentang larangan menjemur pakaian di depan pintu. Windu meyakini hal itu tidak boleh sebagai hasil pengajaran dari ibunya. Tapi Zahra tak setuju. Baginya sah-sah saja. Terlebih saat tak ada lagi tempat yang bisa dipakai untuk menjemur. Terkadang Windu memang kaku dengan hal seperti ini. Namun, untuk urusan menjadi relawan, mereka punya pemikiran yang sama. Sejak acara di desa sebulan lalu, Windu jadi sering terlibat dengan kegiatan relawan. Ia tak lagi harus menunggu Zahra jika ingin mengikuti kegiatan di Rumah Cita. Bahkan sekarang Windu sudah jadi relawan tetap. Rumah Cita jadi tempat pelariannya saat tugas kampus berusaha memecahkan kepala. Anak-anak di Rumah Cita memberikan pelajaran berbeda untuk Windu. "Bagaimana perasaanmu?" Tanya wanita dewasa itu dengan tatapan menghangatkan di suatu p...

#4. Jurnal Harian

Kapal Dolphin sedang bercumbu mesra dengan air laut. Ukurannya yang tidak besar mengharuskan ia mengalah pada lautan. Berlayar di pinggir laut agar tak termakan ombak besar. Sesekali Dolphin harus memanjat ombak demi bisa terus melaju ke tempat tujuan. Tak jarang seseorang dibalik lajunya Dolphin harus menurunkan knot untuk menjaga keseimbangan. Dolphin ini sangat lihai. Seolah sudah berteman akrab dengan lautan. Layaknya Dolphin yang sebenarnya. Di sudut Dolphin terlihat seorang anak kecil. Sebenarnya ia sangat cantik. Namun aromanya sudah tak mengenakkan hidung. Baru setengah jam perjalanan, ia sudah pucat pasi. Mengeluarkan isi perut yang mendesak ingin bebas. Jika ditampung, sudah menghabiskan setengah lusin plastik. Seseorang di sebelahnya terlihat sibuk mengurut tengkuk anak kecil itu. Padahal, memandangi laut sangat menyenangkan. Tapi sayang, anak kecil tadi tak bisa turut merasakan sensasinya. Sebisa mungkin Windu menjauh dari anak kecil itu. Ia takut akan melakukan hal sa...

#3. Pengamat

Sejak lima menit lalu seekor kupu-kupu terlihat sibuk. Beterbangan ke sana ke mari. Sesekali menabrakkan tubuhnya ke benda yang terpampang besar dan mengelilingi ruangan ini. Sepertinya ia mencari jalan ke luar. Benda besar ini memang transparan. Mungkin itu lah alasan si kupu-kupu menabrakkan badannya. Ia mengira itu jalan keluar dari ruangan. Ada begitu banyak orang dalam ruangan. Tapi sepertinya tak ada yang menyadari keberadaan si kupu-kupu. Membuat kupu-kupu harus terbang mengelakkan tabrakan dengan tubuh manusia yang ukurannya berkali lipat. Beberapa menit sekali kupu-kupu berhenti terbang. Lalu hinggap di bingkai lukisan pemandangan yang menghiasi ruang. Mungkin ia lelah. Terbang ke sana ke mari, tapi tak jua menemukan pintu keluar. Sekilas, ia terlihat bahagia karena terbang ke sana ke mari. Tapi sebenarnya ia terpenjara dalam keramaian ini. 'Driiittt' suara pintu terbuka. Disusul dengan seseorang masuk ke ruangan. Seketika Windu menatap kupu-kupu yang sedang istira...

#2. Peramal

Hari ini akan menjadi pertemuan ketiga dengan wanita dewasa waktu itu. Pertemuan yang lalu tidak begitu berjalan mulus. Ada rasa yang tak menentu. Windu sempat dibuat takut menghadapi wanita yang gemar mengenakan blazer biru muda. Kabarnya wanita itu juga paling ditakuti di gedung ini. Rasa takut campur was-was membuat pertemuannya tak begitu bermakna. Meskipun begitu, Windu tetap menyelesaikan tugas yang diminta beliau. Demi mencapai cita-cita, Windu rela mengorbankan satu jam waktunya setiap malam sebelum tidur. Pagi ini matahari bersinar dengan sangat cerah. Dua hari yang lalu hujan turun berturut-turut. Beberapa penghuni kamar kosan harus rela menguras air yang sudah menyentuh mata kaki. Salah satu derita anak kos! Untungnya hari ini cerah. Sepertinya mentari sudah lelah bersembunyi di balik awan. Dia lelah bermain petak umpet bersama manusia. Setelah mendapat mandat dari Pencipta, ia pun memberikan kehangatan pada umat manusia. Cerahnya hari ini tidak secerah suasana hati Wind...

#1. Selimut Tua

"Baiklah, hari ini cukup sampai disini saja. Nanti kita atur pertemuan selanjutnya ya. Jangan lupa selesaikan tugas yang saya berikan." seorang wanita muda dewasa menyampaikan kalimat penutup dengan penuh kehangatan pada gadis yang duduk di depannya. Gadis itu menganggukkan kepala, tanda setuju dengan perkataan wanita dewasa tersebut. Ia beranjak dari kursi yang sudah mengempes busanya karena lelah dikencani. Setelah berpamitan pada wanita tersebut, ia menarik gagang pintu dari ruangan sederhana berwarna putih yang menenangkan mata saat memandang. Sekali lagi diarahkannya pandangan pada wanita yang masih duduk di belakang meja, kemudian menarik kedua sisi bibirnya diikuti dengan menarik gagang pintu ke arah luar. Ia menyusuri satu-satunya lorong lantai dua yang ada di gedung ini. Lorong yang masih bernuansa sama, juga berwarna putih layaknya ruang yang baru dikunjungi. Ia melangkahkan kakinya dengan pasti. Melewati berbagai rupa manusia yang beberapa diantaranya masih sanga...

Samenan: Sebuah Perayaan Kelas Laskar Aksara

Samenan? Apa itu? Jujur, aku juga baru beberapa hari yang lalu mendengar kata itu. Tentu saja aku mengenalnya dari keluarga baru yang kusebut Laskar Aksara. Pertama kali melihat tulisan Samenan, aku membacanya semenan. Apaan tuh semenan? Nyemen? Kayak nyemen bangunan gitu? Setelah kuperhatikan lebih lanjut, ternyata "Samenan". Samenan ini merupakan bahasa Sunda dan sudah menjadi tradisi daerah Tasikmalaya yang berarti perayaan naik kelas atau dilakukan ketika perpisahan. Iya iyaaa, keluarga Laskar Aksara ini memang tersebar di Indonesia. Makanya nih, kalau kamu mau punya keluarga baru, wajib ikutan Laskar Aksara. Nah, kami pun mengadopsi kata ini untuk merayakan kenaikan kelas para anggota keluarga Laskar Aksara. Bagaimana kenaikan kelasnya kami? Apa indikasinya? Sederhana saja. Semua anggota telah mampu menyelesaikan tantangan menulis satu tema untuk satu hari. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih untuk aku si pemula ini. Nah, karena sudah mampu menyelesaikan...

Lika-liku Pencarian Cinta (Part 1)

Sepasang Bola Mata Hari ini sangat terik. Mentari sedang semangatnya memancarkan sinar. Dua hari yang lalu hujan turun berturur-turut. Banyak manusia yang mengeluh karena hujan telah menghambat berbagai aktivitas. Akhirnya hari ini Dia mengutus matahari untuk bersinar terang. Dia berharap manusia akan berterima kasih. Tapi sayang, manusia terlalu sulit dimengerti. Manusia itu juga mengeluhkan hal yang sama. Seperti halnya mengeluh waktu hujan. Entah apa yang mereka inginkan. Seorang lelaki berkaos oblong abu-abu itu pun tampak gerah dengan cuaca hari ini. Ia mencoba meneduhkan diri di bawah pohon beringin. Tak jauh dari keramaian. Tampaknya Ia begitu sibuk. Terus menatap ke bawah, mengotak-atik handphone tanpa memperdulikan sekitarnya. Ia Gillan. Mahasiswa teknik elektro yang suka sama hal berbau teknologi. Gillan juga cinta sama kecepatan. Gillan suka ponsel yang punya dapur pacu cepat. Suka komputer yang mampu merespon cepat. Teknologi terkini yang bersaing cepat. Hingga suka...

Menyapa 30 Hari Berikutnya

Akhirnya aku tergerak untuk menulis tantangan hari terakhir ini. Entah kenapa sejak tadi pagi ada perasaan enggan yang merantaiku untuk tidak menyelesaikan misi penutup kali ini. Rasanya aku takut tak bisa bertemu lagi. Mungkin aku sudah terlanjur cinta pada tantangan #30DWC yang karena ia lah aku bisa bertemu dengan berbagai watak. Seolah kami sudah kenal lama dan terikat dalam untaian aksara. Seperti kata salah satu guru kami di Laskar Aksara, dari tulisan-tulisan itu kami saling mengenal. Melalui tulisan kami mencoba membaca watak sang penulisnya. Tak jarang juga aku suka melukis di kepala tentang sosok yang sedang kubaca ceritanya. Aku bakal rindu semua itu. Meski katanya akan ada tantangan kedua yang direncanakan dibulan pembuka tahun. Entah apa jadinya aku saat menunggu kedatangan masa itu. Tak bisa pula kubayangkan kelak akan seperti apa nasib rumah kataku. Rumah tempat aku menuangkan kata dengan jujur. Semoga aku bisa mengunjungimu sebelum laba-laba membuat sarang di rumahku....